Produsen Migas Dituntut Kejar Target Produksi 2022

Ekonomi73 Views

Liputan6.com, Jakarta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menuntut Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar dapat segera merealisasikan komitmen kerja serta melakukan upaya-upaya peningkatan produksi untuk memenuhi target lifting migas 2022. Hal ini dengan memanfaatkan momentum tingginya harga migas dunia saat ini.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, tingginya pelaksanaan kegiatan hulu migas telah ditunjukkan pada program tahun 2022, khususnya pengeboran sumur pengembangan yang dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan produksi migas nasional.

Berdasarkan data realisasi jumlah sumur pengembangan dan kegiatan well service per April 2022, realisasinya lebih tinggi jika dibandingkan realisasi April 2021 secara year on year. Dimana realisasi untuk sumur pengembangan mencapai 197 persen dan kegiatan well service 194 persen.

“Artinya secara kegiatan, hulu migas telah melakukan dua kali lipat dari tahun sebelumnya, namun hasilnya belum cukup untuk memenuhi target lifting tahun ini. Untuk itu SKK Migas akan memastikan komitmen program kerja KKKS dapat terlaksana dengan baik serta bersama-sama merumuskan upaya-upaya terobosan peningkatan produksi dalam kegiatan ini,” kata Dwi.

Menurut Dwi, kondisi harga minyak dan gas dunia saat ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh KKKS untuk melakukan aktivitas yang berdampak langsung pada produksi, terlebih pemerintah telah menunjukkan komitmennya untuk membuat iklim industri hulu migas yang lebih atraktif dengan berbagai kemudahan perizinan dan insentif.

6 Strategi

Dwi kemudian menjelaskan, SKK Migas memiliki enam strategi jangka pendek sebagai upaya untuk memenuhi target lifting migas tahun 2022 yaitu percepatan program filling the gap, reaktivasi idle well dan idle field, optimalisasi planned shutdown & menurunkan frekuensi unplanned shutdown, efficiency fuel & zero flare gas program, dan pengurasan stock.

“Saya minta SKK Migas bersama KKKS dapat membedah lebih detil realisasi dari tiap strategi dan rencana kedepan sehingga segala kendala yang terjadi dapat kita mitigasi risikonya. Selain itu, agar dapat juga dipastikan pelaksanaan komitmen program KKKS dan estimasi angka penambahan produksi untuk Semester II 2022,” ujar Dwi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengungkapkan, Direktorat Jenderal Migas bersama SKK Migas terus berupaya untuk menyusun regulasi yang dibutuhkan oleh para investor agar visi jangka panjang produksi 1 juta barel minyak per hari (bph) dan 12 milyar standar kaki kubik per hari (BSCFD) gas pada 2030 dapat tercapai.

“Realisasi produksi migas nasional masih jauh dari apa yang direncanakan, untuk itu diperlukan kolaborasi serta langkah taktis antara seluruh pemangku kepentingan hulu migas untuk mencapai target-target yang ditetapkan pemerintah,” ungkap Tutuka.

Tutuka juga mendorong SKK Migas bersama KKKS untuk dapat mengadopsi penggunaan teknologi hulu migas terkini. “Implementasi teknologi yang akan berdampak langsung terhadap peningkatan produksi perlu dimaksimalkan. Kami juga berharap SKK Migas dan KKKS dapat memberikan solusi terhadap adanya perbedaan yang terjadi antara rencana dan realisasi produksi tahun 2022,” pungkasnya.

Pertamina Temukan Cadangan Migas di Perairan Utara Jawa

Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai Subholding Upstream Pertamina, melalui PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) berhasil temukan cadangan migas dari pengeboran sumur eksplorasi GQX-1 di Perairan Utara Jawa.

Sumur eksplorasi GQX-1 terletak kurang lebih 17 km dari eksisting fasilitas produksi lapangan MM. Sumur GQX-1 yang ditajak pada akhir April 2022 mencapai kedalaman akhir 2958 feet Measured Depth (ftMD) pada tengah Mei 2022.

Sumur ini berhasil menemukan minyak dan gas melalui Uji Kandungan Lapisan (Drill Stem Test/DST) #1 yang dilakukan pada reservoir shallow marine sandstone Formasi Main.

“Dari hasil Uji Kandungan Lapisan Pertama diperoleh laju aliran gas sebesar 3,6 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan minyak 108 barel perhari (BOPD). Selanjutnya akan dilakukan Uji Kandungan Lapisan Kedua/DST#2 pada interval 2494-2519 ftMD di lapisan MR-26,” ujar Direktur Eksplorasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) – Subholding Upstream, Medy Kurniawan, Kamis (2/6/2022).

Medy menjelaskan bahwa temuan cadangan dari sumur GQX-1 melengkapi keberhasilan temuan cadangan sebelumnya pada tahun 2022, yaitu sumur Sungai Gelam Timur-1 (SGET-1) di Jambi, Manpatu-1X di Mahakam, dan Wilela-001 di Sumatera Selatan.

Pada tahun 2021, Subholding Upstream berhasil melakukan pengeboran sumur eksplorasi sebanyak 12 sumur.

Tahun 2022, Subholding Upstream berupaya meningkatkan kinerja melalui rencana kerja pengeboran sumur eksplorasi yang agresif sebanyak 29 sumur, atau 242 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2021.

Dalam strategi eksplorasi, Subholding Upstream memiliki tiga inisiatif utama. Tiga strategi utama tersebut antara lain berupa aset Wilayah Kerja (WK) eksisting dimana kontribusi eksplorasi dibutuhkan dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi migas eksisting.

Selanjutnya strategi New Ventures dimana Subholding Upstream Pertamina mencari potensi eksplorasi yang baru.

Terakhir, strategi partnership untuk sharing risk & cost serta technology & knowledge transfer melalui akselerasi proses kerjasama dan joint bidding domestic serta luar negeri.

Subholding Upstream Pertamina akan terus mengembangkan pengelolaan operasi di dalam dan luar negeri secara profesional untuk mewujudkan pencapaian menjadi perusahaan minyak dan gas bumi kelas dunia.

Jadi Subholding Upstream, Pertamina Hulu Energi Punya 68 Anak Perusahaan

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina terus meningkatkan kinerja ekselen guna menjadi perusahaan minyak kelas dunia.

Sejalan dengan pembentukan PT Pertamina (Persero) sebagai holding migas, tahun 2021 Pertamina Hulu Energi ditetapkan menjadi Subholding Upstream dengan melakukan pengambilalihan seluruh saham milik PT Pertamina (Persero) atas 11 anak perusahaan yang terkait dengan pengelolaan hulu migas Pertamina.

Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream Pertamina menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang dihadiri dewan komisaris, dewan direksi dan perwakilan pemegang saham di Jakarta pada Selasa 24 Mei 2022.

PHE sebagai Subholding Upstream mengkoordinir 5 Regional yang masing-masing dinahkodai oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) untuk Regional Sumatera, PT Pertamina EP (PEP) untuk Regional Jawa.

Kemudian PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) untuk Regional Kalimantan, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) untuk Regional Indonesia Timur, PT Pertamina Internasional EP (PIEP) untuk Regional Internasional; 2 Anak Perusahaan Services yaitu PT PDSI dan PT Elnusa, Tbk.; serta 1 Anak Perusahaan yang bergerak dalam pemrosesan gas alam yaitu PT Badak NGL.

‘Setelah ditetapkan menjadi Subholding Upstream, Pertamina Hulu Energi saat ini secara total memiliki 68 anak perusahaan yg terdapat di dalam dan luar negeri dengan perusahaan patungan berjumlah 6 dan perusahaan afiliasi ada 2 perusahaan.

“Adapun wilayah Kerja PT PHE sebagai Subholding Upstream sampai akhir 2021 adalah sebanyak 40 Wilayah Kerja Domestik dan 27 Wilayah Kerja Internasional,’’ jelas Corporate Secretary Subholding Upstream Arya Dwi Paramita, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (26/5/2022). 

Dengan adanya sinergi dari seluruh Anak Perusahaan ini, Subholding Upstream Pertamina memiliki strategi sebagai upaya peningkatan kinerja hulu migas dengan berbagai kebijakan sebagai rangkaian dari upaya transformasi menuju ketahanan energi nasional.

Sinergi dan strategi menjadi kunci dalam keberhasilan Subholding Upstream Pertamina sehingga mencatatkan kinerja unggul sepanjang tahun 2021.

 

Sumber : https://www.liputan6.com